Kamu pikir hubunganmu gagal karena kurang cinta. Tahan dulu tuduhan itu.
Kita terbiasa menganggap cinta sebagai urusan paling pribadi. Cuma milik dua orang. Padahal jauh sebelum kalian ribut soal masa depan, ada yang sudah ikut menentukan hasilnya sejak awal: kondisi ekonomi di sekitarmu.
Ada satu kebohongan halus yang kita telan dari film dan lagu. Katanya, kalau cintanya “benar”, dua orang bisa mengalahkan apa saja. Terdengar indah. Tapi diam-diam kejam. Kebohongan itu menyulap kegagalan sistem menjadi kegagalan pribadimu.
Jadi waktu sebuah hubungan kandas di tengah himpitan biaya hidup, yang tersisa bukan cuma patah hati. Ada rasa bersalah yang menempel: mungkin aku memang kurang mapan, kurang berjuang, kurang cukup.
Tulisan ini mau menantang rasa bersalah itu. Bukan biar kamu lepas tanggung jawab, tapi biar tanggung jawabnya ditaruh di tempat yang benar. Karena banyak tekanan yang kamu rasakan di ruang paling pribadi hidupmu justru datang dari ruang yang paling jauh dan paling tidak romantis: harga kebutuhan, upah, dan kebijakan yang tidak pernah kamu pilih.
Cinta punya tanggal kedaluwarsa biologis
Mulai dari otak. Di situ semuanya bermula.
Waktu jatuh cinta, otakmu bukan sedang “berbunga-bunga”. Ia sedang kebanjiran dopamin, zat pemicu rasa senang yang sama persis dengan yang muncul saat orang kecanduan. Riset pemindaian otak oleh Helen Fisher dan tim (2005) menunjukkan, menatap wajah orang yang kita cintai menyalakan bagian otak yang identik dengan pola kecanduan. Jadi kalau fase awal terasa seperti mabuk, otakmu memang benar-benar sedang mabuk.
Masalahnya, mabuk itu ada masa berlakunya.
Psikolog Dorothy Tennov menyebut fase menggebu ini limerence. Rata-rata ia bertahan 18 bulan sampai 3 tahun, lalu meredup. Bukan berarti cintanya habis. Ia cuma berganti bentuk, dari yang menggebu jadi rasa nyaman dan aman yang lebih tenang.
Di titik peralihan inilah banyak hubungan rontok. Begitu “kacamata mabuk” dilepas, yang muncul bukan lagi fantasi. Yang muncul: cicilan, harga yang naik, gaji yang gitu-gitu saja.
Kita kira ini tanda salah pilih orang. Padahal masalahnya lebih sederhana sekaligus lebih berat. Pindah dari mabuk cinta ke komitmen butuh kepala dingin. Dan kepala dingin itu barang mahal kalau ekonomi di sekitarmu bikin cemas tiap hari.
Otak yang kehabisan energi susah mencintai dengan benar
Kalau euforia bukan penopang jangka panjang, lalu apa? Jawabannya sepele: interaksi kecil sehari-hari.
Pasangan peneliti John Gottman dan Robert Levenson mengamati ratusan pasangan selama puluhan tahun. Mereka bisa menebak siapa yang bakal cerai dengan akurasi sekitar 90 persen. Kuncinya satu angka: 5 banding 1. Di hubungan yang sehat, tiap satu momen negatif ditutup minimal lima momen positif. Sapaan, candaan, perhatian receh, pujian kecil. Bukan berarti mereka tak pernah berantem. Tabungan positifnya saja yang selalu cukup untuk menambal.
Pertanyaannya, dari mana kita ambil “tabungan positif” itu kalau kepala sudah penuh stres seharian?
Biaya hidup mahal, capek di jalan, masa depan tanpa kepastian. Semua itu menyedot energi kita jauh sebelum sampai rumah. Akhirnya kita ketemu pasangan dengan baterai tinggal sepuluh persen. Lalu ribut soal hal sepele.
Bukan karena berhenti sayang. Tapi karena tiap hari kita sudah diperas duluan, sampai batas sabar menipis.
Kemiskinan diam-diam menyita cognitive bandwidth-mu
Di sinilah ilmu ekonomi perilaku kasih kita istilah yang pas.
Ekonom Sendhil Mullainathan dan psikolog Eldar Shafir menyebutnya scarcity: kondisi saat pikiran terus-terusan disandera satu urusan mendesak, biasanya soal uang. Waktu itu terjadi, cognitive bandwidth (kapasitas otak untuk berpikir jernih) menyusut drastis. Anggap saja seperti HP yang RAM-nya penuh: semua aplikasi jadi lemot. Ini bukan omongan motivasi kosong.
Buktinya ada di jurnal Science (Mani, Mullainathan, Shafir & Zhao, 2013). Peneliti menguji petani tebu di India dua kali. Pertama waktu kantong kering sebelum panen, kedua waktu uang sudah di tangan setelah panen. Orang yang sama, sawah yang sama. Tapi waktu miskin, skor berpikir mereka anjlok setara sekitar 13 poin IQ. Lebih parah daripada efek begadang semalaman penuh.
Resapi artinya. Cemas soal uang bukan cuma bikin bad mood. Ia benar-benar menurunkan kemampuanmu berpikir tenang, menahan emosi, dan berempati. Padahal tiga hal itu justru bahan baku utama cinta yang dewasa: sabar mendengar, tahan diri untuk tidak meledak, dan ruang untuk memikirkan perasaan orang lain.
Sekarang bayangkan dua orang yang sama-sama hidup dalam mode bertahan hidup selama berbulan-bulan. Sementara di luar sana, sebagian pejabat daerah lebih sibuk bagi-bagi kursi di BUMD ketimbang membuka lapangan kerja.
Dalam kondisi begitu, kesabaran adalah barang pertama yang habis di rumah. Pasangan pun saling menyalahkan. Mereka memikul beban dari sistem yang gagal, tapi mengira beban itu aib pribadi mereka.
Yang paling sering meledakkan rumah tangga adalah uang
Kalau ini terdengar seperti karangan, tenang. Datanya sudah lama ada.
Studi jangka panjang atas 4.574 pasangan (Dew dkk., Family Relations, 2012) menemukan satu hal: pertengkaran soal uang adalah pemicu perceraian paling kuat. Lebih kuat daripada ribut soal seks, mertua, anak, atau pembagian kerja rumah.
Yang menarik, besar-kecilnya gaji ternyata bukan penentu utama. Artinya yang meruntuhkan rumah tangga bukan angka di rekening, tapi konflik dan tekanan yang lahir dari himpitan ekonomi tanpa henti.
Para sosiolog menyebutnya family stress model (Conger dkk., 1990). Alurnya begini: tekanan ekonomi menggerus emosi, emosi yang tergerus memicu pertengkaran, pertengkaran yang menumpuk pelan-pelan menghancurkan rumah tangga.
Kemiskinan tidak membunuh cinta secara langsung. Ia melakukannya lewat jalan memutar, dengan merampas ketenangan yang dibutuhkan cinta untuk bertahan.
Aceh: waktu jeulamee lari lebih cepat daripada gaji
Sekarang bawa semua ini pulang ke Aceh. Kita hitung pakai angka, bukan perasaan.
Mahar dalam adat Aceh, jeulamee, dihitung dalam emas dengan satuan mayam (1 mayam = 3,33 gram). Besarannya beda-beda tiap daerah. Pidie termasuk yang paling tinggi. Kajian menyebut kisaran 10 sampai 30 mayam, dan dalam sepuluh tahun terakhir cenderung di belasan sampai 20-an mayam. Beberapa studi bahkan menyebut mahar Pidie tertinggi kedua di Indonesia setelah Sulawesi.
Ambil contoh yang moderat saja: 20 mayam.
Harga emas perhiasan di Banda Aceh sekitar Rp 7,5 juta per mayam (awal September 2026). Berarti maharnya saja sekitar Rp 150 juta. Itu belum ongkos tempa, resepsi, apalagi modal awal rumah tangga.
Sekarang bandingkan dengan gaji. UMK Kota Banda Aceh 2026 adalah Rp 4.162.965, tertinggi se-Aceh. Untuk menutup 20 mayam saja, pekerja bergaji UMK harus menyisihkan seluruh gajinya, tanpa makan, tanpa sewa, tanpa apa pun, selama sekitar 3 tahun.
Skenario yang lebih masuk akal, menabung Rp 1,5 juta per bulan, butuh lebih dari 8 tahun tanpa jeda. Dan itu baru sampai garis start pernikahan.
Itu pun kalau punya penghasilan stabil, sesuatu yang mewah di Aceh. Per Agustus 2025, 63,91 persen pekerja Aceh ada di sektor informal, tanpa kontrak tetap dan minim jaminan (BPS Aceh).
Biar makin terasa: Rp 150 juta itu setara lebih dari 200 kali garis kemiskinan bulanan Aceh, yang per Maret 2026 tercatat Rp 742.464 per orang per bulan (BPS Aceh).
Perhatikan, tidak ada satu pun angka di atas yang mengukur seberapa dalam kalian saling cinta. Ini murni soal hitung-hitungan: antara tuntutan budaya yang terus naik dan daya ekonomi yang jalan di tempat.
Budaya dan keluarga mendorong anak muda berlari kencang. Kebijakan publik dan lapangan kerja yang mandek justru menahan kaki mereka. Waktu jarak keduanya melebar, yang menanggung selisihnya adalah generasi muda. Bayarannya pahit: rencana nikah yang batal, dan masa depan yang tertunda entah sampai kapan.
Ini bukan serangan ke tradisi. Adat Aceh sendiri punya tiga asas: mudah, sepakat, dan sekufu. Ketiganya justru menekankan kemudahan, bukan pemberatan. Jadi masalahnya bukan di nilai budaya, tapi di tata kelola yang membiarkan ekonomi lokal mandek sementara harga terus memanjat.
Waktu tata kelola gagal menumbuhkan ekonomi daerah, kegagalannya tidak berhenti di laporan APBA. Efeknya sampai ke rumah tanggamu, ke pertengkaran-pertengkaran kecil yang bikin pasangan lelah.
Berhenti menyalahkan diri sendiri
Wajar kalau kamu merasa gagal saat tuntutan sosial mencekik tapi gaji tidak ke mana-mana. Tapi seluruh uraian di atas mengarah ke satu hal yang melegakan: sebagian besar yang kamu lawan itu bukan kekuranganmu, melainkan sistem.
Bukan berarti kamu tidak punya kendali. Justru sebaliknya.
Menyadari ada sistem di baliknya adalah cara pertama merebut kembali akal sehat. Selama kamu mengira ini semua salahmu, kamu akan terus menghukum diri untuk sesuatu yang jauh di luar kamarmu. Begitu kamu paham cara kerjanya (mabuk cinta yang ada masa berlakunya, kepala yang tumpul saat cemas soal uang, harga yang naik lebih cepat dari gaji), kamu bisa mulai ambil keputusan dengan kepala dingin. Dan menaruh marah di alamat yang benar.
Langkah pertama untuk berpikir jernih adalah tahu persis di mana kamu berdiri sekarang. Jangan biarkan krisis yang sifatnya struktural ini diam-diam merusak harga diri dan hubunganmu.
Petakan posisimu. Lihat kondisi ekonomi di kotamu pakai data, bukan perasaan. Temukan pijakan nyatamu di aim.garishitam.com.
Rujukan
- Fisher, H., Aron, A., & Brown, L. L. (2005). Romantic love: An fMRI study of a neural mechanism for mate choice. Journal of Comparative Neurology, 493(1), 58–62.
- Tennov, D. (1979). Love and Limerence: The Experience of Being in Love. Stein & Day.
- Gottman, J. M., & Levenson, R. W. Studi longitudinal pasangan (The Gottman Institute); rasio positif banding negatif 5:1.
- Mani, A., Mullainathan, S., Shafir, E., & Zhao, J. (2013). Poverty Impedes Cognitive Function. Science, 341(6149), 976–980.
- Mullainathan, S., & Shafir, E. (2013). Scarcity: Why Having Too Little Means So Much. Times Books.
- Dew, J., dkk. (2012). Examining the Relationship Between Financial Issues and Divorce. Family Relations, 61(4).
- Conger, R. D., dkk. (1990). Linking Economic Hardship to Marital Quality and Instability. Journal of Marriage and the Family, 52(3).
- Harga emas perhiasan per mayam, Banda Aceh (5 September 2026): Serambinews.com.
- Kisaran jeulamee Pidie & konversi mayam: Sekretariat Majelis Adat Aceh; kajian mahar adat Aceh Pidie (SAKINA: Journal of Family Studies).
- UMK Banda Aceh & UMP Aceh 2026; garis kemiskinan Aceh Maret 2026; komposisi pekerja informal Agustus 2025: BPS Provinsi Aceh.
Catatan data: harga emas bergerak harian; angka Rp 7,5 juta/mayam adalah posisi awal September 2026 dan sebaiknya diperbarui saat publikasi. Besaran jeulamee bersifat kisaran adat, bukan angka baku.
